Disorientasi Pengasuhan
Oleh Oki Setiana Dewi (KCB)
Saya yakin semua bunda memiliki rasa cinta yang begitu mendalam pada sang
anak. Semua bunda juga melimpahi kasih sayang yang besar pada anak-anaknya.
Tapi terkadang saat proses itu berlangsung, yang sering saya temukan
justru pola pendidikan dengan kekerasan dan paksaan, yang justru berakibat anak
menjadi takut atau pura-pura untuk taat padahal hatinya berontak atau justru
adanya rasa tidak hormat pada sang bunda.
Ketika saya mengunjungi suatu pusat perbelanjaan, hati saya miris sekali
ketika melihat seorang bunda mencubit perut anaknya yang rewel. Ya, tentu saja.
Bukannya tangisan berhenti, justru bertambah kencang. Karena selain ditambah dengan
tangisan akibat rasa sakit dicubit, juga ditambah dampak rasa sakit hati dihukum
di depan banyak orang. Atau kisah lain ketika saya melihat seorang anak
seringkali berkata keras dan kasar pada temannya. Ternyata usut punya usut
kebiasaan itu muncul karena di dalam rumahnya pun, sang ayah dan bunda kerap
kali membentak anggota keluarga yang lain.
Di era modern ini, kuantitas pengerdilan peran sang bunda terus bertambah
saja. Betapa tersembilinya hati ini ketika mendapati kenyataan sang anak lebih
dekat pada
babysitter-nya ketimbang dengan ibunya. Kemana-mana dengan
babysitter,
bahkan makan sampai tidur pun dengan
babysitter. Mungkin sang bunda
terlalu banyak urusan di luar sana sehingga ‘lupa’ bahwa fitrah terindah adalah
menjadi seorang bunda. Lupa bahwa bunda adalah penanam nilai-nilai moral maupun
spiritual pertama bagi seorang anak.
Seyogyanya, bundalah yang harusnya paling sering berada di sisi sang anak.
Namun pada kenyataannya, dewasa ini, masa perkembangan anak seringkali luput
dari perhatian orang tua. Apalagi pada masa-masa paling rawan, yakni masa
puber. Hal ini terbukti dengan begitu banyaknya jumlah kasus kenakalan yang di
lakukan para remaja.
Keluarga, termasuk ayah bunda di dalamnya, bertanggung jawab dalam membangun
bongkah demi bongkah nilai-nilai spiritual dan moral anak. Dengannya,
diharapkan menjadi suatu pondasi yang kokoh dalam melahirkan anak -anak berketeguhan
hati dalam menjalani hidupnya. Tugas besar bunda yakni memelihara spiritualitas
dan menanamkan nilai-nilai luhur pada sang anak, seringkali diabaikan. Maka
janganlah dipersalahkan ketika kemudian jiwa anak-anak itu rapuh, berbaur pada
lingkungan yang salah, kemudian lebur ke dalamnya.
Beberapa bunda bersikap sangat diktator dan otoriter terhadap
anak-anaknya. Ingin anaknya menjadi yang terbaik di sekolahnya, atau
berprestasi di bidang ini-itu agar bisa membanggakan ayah dan bundanya .Ya,
orangtua mana yang tidak ingin memberikan yang terbaik pada anaknya sehingga
anaknya pun mendapatkan yang terbaik dalam segala aktivitasnya. Tapi kalau
boleh saya mengkritisi, beberapa ayah bunda cenderung tidak peduli pada proses yang
niscaya harus dijalani dan seringkali hanya terfokus pada hasil. Sebagai
seorang calon bunda, ingin rasanya pada suatu saat nanti, bila sudah saatnya
saya menjadi seorang bunda, saya ingin menghargai proses dan tentu saja
menemani proses yang dilalui oleh tumpuan masa depan saya itu. Agar saya
mengerti dan memahami kesulitan-kesulitan yang dialami anak saya kelak. Agar
saya tidak langsung menghakimi bila ia gagal mewujudkan bentuk hasil yang dicita-citakan.
Setiap bunda ingin anak-anaknya menjadi anak yang terbaik dan menjadi anak
yang shalih atau shalihah. Tapi dalam proses menuju ke arah itu, beberapa bunda
justru seringkali tidak berperan banyak. Bunda sibuk di luar rumah sehingga
seringkali saya melihat banyak teman-teman saya cenderung menempatkan posisi
teman adalah segalanya. Teman dijadikan tempat curahan hati, tempat berkeluh
kesah, tempat yang lebih nyaman mereka datangi saat mereka terombang-ambing,
tempat menceritakan dengan jujur apa yang terjadi dalam kehidupan mereka. Jika
teman yang dipilihnya adalah teman yang baik tentu akan membawa pengaruh yang
baik pula
Sebaliknya, jika teman yang dipilihnya adalah
teman yang tidak baik, tentu akan membawa dampak negatif bagi perkembangan
jiwanya. Maka untuk meminimasi hal yang tidak diinginkan terjadi pada sang
anak, peran atau kehadiran bunda sangat diperlukan pada proses menemani tersebut.
Bundalah yang seharusnya menjadi tempat berlabuhnya segala keluh kesah dan memberikan
rasa aman dengan pelukan hangat. Bukan bunda sebagai orang asing. Bukan rumah
sebagai tempat persinggahan sementara. Saya hanya mengamati sesuatu yang jamak
terjadi dan terus bertanya-tanya dan kemudian berasumsi sendiri,
bukankah
ini dampak dari suatu pola pengasuhan...?
Print
Kirim
Arsip