Forum Diskusi

Join Groups
Anda bisa bergabung dengan layanan milis di yahoo dengan memasukan email anda diform berikut:
Album Keluarga



Newsletter AyahBunda
Dapatkan artikel dan tulisan menarik dari AyahBundaku diemail Anda:
Nama Lengkap :
Email Address :
  Be Mom Be Dad
Ternyata hidupku begitu indah bersama keluargaku...
Oleh Umy Setyowati Hartini

Selama ini aku menilai hidupku biasa saja, tidak ada yang berarti dengan cara bagaimana orangtuaku membesarkanku, cara mereka mendidikku dan pengorbanan mereka terhadapku. Lingkungan tempatku tumbuh juga biasa saja, tidak ada yang istimewa.  Aku tinggal kampung kecil di daerah Sumatera Selatan dengan masyarakat yang baru kusadari belakangan ini ternyata sangat heterogen (karena terdiri dari berbagaimacam suku, yaitu suku Padang, suku Jawa, suku Sunda dan suku asli Palembang). 

Aku merasa hidupku biasa-biasa saja. Sampai pada akhirnya aku merantau, kuliah di kota yang jauh lebih besar dibandingkan dengan desaku.  Kota ini cukup asing bagiku karena ini kali pertama aku meninggalkan kampung halamanku dalam waktu yang lama.  Di masa ini, aku memulai sosialisasiku yang lebih luas.  Berbagai macam teman dari berbagai suku bangsa aku temui disini. Masing-masing membawa karakter bentukan hasil didikan orang tua dan lingkungannya masing-masing, dan di masa inilah aku mulai bisa mensyukuri hidupku, mensyukuri indahnya keluargaku ....

Indahnya hidupku bersama keluargaku, aku sadari pertama kali ketika berkunjung ke rumah salah satu temanku di Bogor pada hari kerja untuk menyelesaikan laporan praktikum. Rumah besarnya tampak sangat elegan dengan lingkungan asri. Rumahnya berada disalah satu komplek perumahan elit di kota Bogor, sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan rumahku yang sederhana.  Ada rasa ’minder’ dan ’kepengen punya’ saat akan masuk ke rumahnya.  Setelah masuk ke rumah, kami langsung masuk ke kamar temanku untuk mengerjakan tugas. Tidak ada yang janggal, semua terlihat sempurna di mataku dengan semua perabotan mewahnya.  Sampai masuk jam makan siang, temanku itu mempersilakanku untuk makan siang. 

Selain temanku dan asisten rumah tangganya, tidak ada orang lain yang kulihat disitu. HANYA TEMANKU DAN ASISTEN RUMAHTANGGANYA.  Aku mulai menyadari bahwa rumah ini terlalu ’sepi’, meski ada suara dari televisi yang menyala, kesunyian itu tak bisa terkalahkan.  Hal ini sangat kontras berbeda dengan kondisi rumahku yang selalu penuh ocehan-ocehan ibuku disetiap jamnya, mengomentari semua yang terjadi pada hari itu, perilaku tetangga yang ’menyimpang’, mengomentari sinetron, gosip-gosip artis, dan komentar-komentar ’tidak penting’ lainnya. Keramaian itu ternyata tidak hanya sebagai penambah bising suasana rumah, tetapi kurasakan sebagai penghangat suasana meski hanya sekedar ocehan-ocehan ’tidak penting’

Jam makan siang pun sangat berbeda dengan kondisi di rumahku.  Di rumah, kebiasaan makan bersama tidak hanya berlaku di pagi dan siang hari. Saat makan siang pun semua dilakukan bersama. Waktu makan adalah saat keluarga berkumpul satu meja. Semua rutinitas harus dihentikan, hanya untuk makan bersama.  Mulai dari makan pagi, dengan menu andalannya, mie goreng, telur dadar dan teh hangat, ibuku dengan rajin ’memaksa’ seluruh anggota keluarga untuk sarapan. Saat siang, sepulang sekolah, juga ditetapkan peraturan tidak tertulis bahwa tidak boleh makan sebelum ayah pulang kerja. Dan untungnya, setiap hari, ayah selalu menyempatkan pulang dari kantor yang memang jaraknya cukup dekat dari rumah.  HANYA UNTUK SEKEDAR MAKAN BERSAMA.  Hal yang sama juga berlaku saat makan malam yang juga selalu dilakukan bersama-sama. Kurasakan hal yang sangat berbeda dengan kondisi yang terjadi di rumah temanku. Satu perbandingan, yang tidak disengaja, dapat membuat pandanganku tentang keluargaku menjadi berubah.

Benar apa yang seringkali diucapkan orang, kita takkan pernah merasa memiliki atau bangga dengan apa yang kita punya,sampai akhirnya kita merasa kehilangan. Tapi dalam kasus ini, bukan kehilangan yang aku alami, tetapi pelajaran perbandingan nikmat.  Dulu, aku memang mengganggap semua yang terjadi dalam keluargaku itu biasa.  Tidak ada yang aneh dan berharga dari kebiasaan itu. Bahkan kadang aku merasa kesal, marah, dan jengkel dengan orang tuaku, khususnya kepada ibuku.  Saat siang, harus menunggu ayah pulang, di hari minggu ’dipaksa’ untuk ikut serta menyiapkan makanan, dan sebagainya.  Tapi kini, semua perasaan marah, kesal dan jengkel itu, tidak ada lagi.  Berganti dengan perasaan bangga dan bahagia.  Ketika semua anggota keluarga berkumpul untuk menceritakan hal-hal yang terjadi sepanjang hari, untuk berbagi informasi, berbagi perhatian yang pada akhirnya berbagi kasih sayang, di meja makan, semua terasa sangat indah.  Untuk kali pertama dalam hidupku aku menyadari bahwa hidupku sangat indah dengan keluargaku.

Kali kedua dalam hidupku, aku mensyukuri indahnya hidupku dengan keluargaku adalah ketika melihat teman kuliahku yang brokenhome.  Teman tipe seperti ini belum aku temui selama di kampungku.  Perpisahan orang tua ternyata sangat memberi dampak kepada kepribadian seorang anak.  Keinginan untuk memberontak, meminta perhatian orang tua, membuat temanku tumbuh menjadi orang yang "berbeda" dengan yang lain.  Puji syukur, hal yang sama belum pernah terjadi padaku dan semoga tidak terjadi.  Selama ini, aku bahkan belum pernah melihat keduanya bertengkar hebat, di depan kami, anak-anaknya.  Aku sadari, kedua orangtuaku bukan orang sempurna yang tidak pernah mengalami masalah dalam rumahtangganya. Akan tetapi, penghargaan terbesarku kepada mereka adalah kemampuan mereka untuk menyimpan dan menyembunyikan semua permasalahan rumah tangga mereka dari hadapan anak-anaknya.  Hal yang paling sering ditampakkan adalah kebahagiaan dan keromantisan mereka.  Duduk berdua di teras depan rumah sambil ngobrol di sore hari, bercanda dan saling ledek ketika nonton televisi, atau saling berpelukan bersama semua anak-anaknya menirukan gaya teletubbies.  Terlihat kekanak-kanakan, tetapi kini kusadari bahwa semua terasa sangat menyenangkan.

Tidak ada kata-kata kotor, caci maki di dalam rumah. Apalagi kekerasan orang tua terhadap anaknya seperti yang diberitakan ditelevisi. Kekerasan maksimal yang aku alami (itu juga kalau bisa disebut kekerasan) adalah cubitan dipaha sehabis bertengkar dengan kakakku. Kalaupun ada hukuman karena kenakalanku, yang paling sering adalah kurungan di kamar mandi selama beberapa menit, tidak pernah sampai berjam-jam.  Penghargaan dan kasih sayang. Itulah mungkin kedua kata yang menurutku cukup tepat untuk menggambarkan semua hal yang telah dilakukan kedua orang tuaku.  Kasih sayang mereka itulah yang baru kusadari ternyata sangat besar buatku, buat anak-anaknya.  Kasih sayang yang kini bisa membuatku dengan tegas menyatakan, bahwa hidupku SANGAT INDAH BERSAMA KELUARGAKU.

Semua kisah ini, terlihat begitu sempurna. Tidak ada cela. Meski sebenarnya, ada banyak hal yang tidak sempurna ketika sebagai anak aku harus menjalani semuanya.  Rasa marah, sebel, jengkel, kesal, rasa egois dan individualis yang masih menjadi dominasi dalam sifat dan perilaku-ku seringkali menjadi penyebab kebutaanku untuk melihat bahwa ternyata keluargaku begitu harmonis. Tapi kini saat semuanya telah kusadari, semua terasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kebanggaan yang kini kurasakan terhadap keluargaku. Terima kasih Tuhan, kau titipkan aku pada keluarga ini.

Keluarga, memang menjadi awal pembentukan karakter kepribadianku. Contoh perilaku yang dilakukan oleh kedua orangtuaku, sedikit banyak membekas di dalam diriku. Mengajariku bagaimana bersikap dalam menjalani pahit manis hidupini.  Semua tak lepas dari peran serta keluargaku. Cita-cita dan harapanku, untuk masa depanku nanti, aku ingin agar kebahagiaan dan kebanggaan menjadi keluarga itu terus ada.  Terust umbuh dan berkembang, untuk menjadi dasar dan pedomanku pada saat  nanti aku menikah dan membina keluarga baruku.  Teladan yang diberikan oleh kedua orangtuaku, niscaya akan aku lakukan juga terhadap keluarga baruku nantinya.  Hingga pada saat nanti ketika anakku tumbuh dewasa, mereka dengan berani dan tegas menyatakan bahwa HIDUPKU SANGAT INDAH BERSAMA KELUARGAKU dan untuk kemudian meneruskannya kepada cucuku dan generasiku selanjutnya kelak.  Amiin.



PrintPrint KirimKirim ArsipArsip RSSRSS
Bookmark and Share


Ruang Ayah Edy

Ibu Kedua Anak Kita
Kita mungkin tidak bisa konsisten tapi program TV selalu konsisten dan hadir tepat waktu. Kita mungkin lupa mengkonfirmasikan pada anak kita bahwa hari ini kita akan pulang terlambat, tapi TV tidak pernah lupa untuk mengkonfirmasikan ... baca selengkapnya....
Konsultasi Gizi dan Keluarga

Pemasakan Dikukus
Saat terjadi kelangkaan minyak goreng, banyak pakar menyarankan untuk memasak makanan dengan cara direbus atau dikukus. Mengapa pemasakan dengan cara dikukus dianggap lebih baik untuk menyelamatkan zat gizi dalam makanan? (Penanya: Ibu Nirmala - Cibinong). baca jawabannya....
Dongeng Untuk Ananda

Saudagar Jerami
Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa. "Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan". baca selengkapnya....
Jajak Pendapat

Permasalahan pada Ananda yang utama dan sulit diatasi?

 Dampak negatif pergaulan
 Prestasi sekolah rendah
 Perilaku kurang terpuji
 Sulit diajak berkomunikasi
 Tidak akur dengan saudara
 Boros uang jajan
 Tidak disiplin

 
Nama Bayi Hari Ini

Nama anak kita adalah doa untuknya, dan nama bayi hari ini adalah Chandler yang artinya Pembuat lilin
lihat nama lainnya....