Andi, bocah empat tahun ini kerapmendengar pertanyaan dari orang sekitarnya: tetangga, guru, ibu, nenek, bahkanpembantu. "Andi kalau besar mau seperti ayah, ya?"
Mungkin, Andi memang perlu belajarbanyak soal siapa ayahnya. Karena cuma ia yang belum bereaksi utuh seperti yangdirasakan orang-orang sekitarnya. Mereka begitu bangga punya orang terdekatyang dikagumi masyarakat. Ada yang menganggap ayah Andi sebagai guru, pejuang,bahkan teladan.
Orang-orang sekitar Andi mengenalayahnya serba sempurna. Pengorbanannya buat masyarakat yang begitu besar.Hampir seluruh waktu ayah Andi tercurah buat orang banyak. "Ayahnya Andi memangorang hebat. Benar-benar aktivis sejati," seperti itulah komentar yang didengarAndi.
Kemana pun Andi pergi, orangselalu mengaitkan Andi dengan ayahnya. "Andi pintar ya, seperti ayah!" Ada lagiyang sering bertanya soal ayah kalau ketemu Andi. "Andi, ayah sehat? Andi, ayahbaik-baik saja?" Masih ada pertanyaan lain yang cuma dijawab Andi dengansenyum. Tak seorang pun tahu apa arti senyum yang diperlihatkan Andi. Adakalanya, orangcuma menangkap pemandangan luar. Tapi, tidak mampu menyentuh isi yang ada didalam. Terlebih, ungkapan dari seorang anak kecil.
Di balik senyum itu, Andi keraptermenung mencermati reaksi sekitar tentang ayahnya. Ia sendiri bingung. Apayang salah dengan dirinya. Kenapa ia tidak sebangga ibu, kakak-kakak, atauorang-orang lain tentang ayah. Kenapa cuma dia yang menilai lain tentang ayah.Andai, ada yang berpikir sama dengan dia.
Sebenarnya, berkali-kali Andiberusaha untuk bangga. Tapi, tetap tidak bisa. Ia merasa ayah tidak sebagusyang dikira orang banyak. Andi menilai ayahnya tidak adil. Pelit. Tidak layakjadi teladan.
Andi kembali termenung. Ia cumabisa mengamati gelak tawa teman-teman TK-nya. Ada yang asyik bermain ayunan,berkejar-kejaran, atau tenang duduk sambil menghisap permen. Mereka tampakgembira.
"Enaknya mereka," ucap Andi dalamhati. Pasti mereka bahagia dengan ayah dan ibu. Pagi bertemu, malam bersamalagi. Bisa cerita ke ibu kalau nggak sreg sama ayah. Dan, bisa curhat sama ayahkalau nggak cocok sama ibu. Ah, mungkin di antara mereka ada yang minggukemarin pergi berjalan-jalan sama ayah dan ibu. Puas rasanya menatap wajahayah, senyumnya, dan mungkin marahnya.
Lebih setahun Andi berpikirtentang itu. Selama itu pula, pertemuannya dengan ayah tercinta bisa dihitungdengan jari. Andi bangun, ayah sudah pergi. Andi tidur, ayah masih di luar.Hampir tiap hari. Termasuk Minggu. Saat-saat yang bisa membuat puas hati Andicuma satu: ketika ayah sakit.
Saat itulah, ia bisa puas menatapwajah ayah. Membelai tangan ayah. Memegang jemarinya yang tampak kurus.Sayangnya, ayah tak bicara banyak. Kecuali, batuk kecil atau mendengkur. "Ayahbutuh istirahat, Andi!" tegur ibu suatu kali.
Itulah kesempatan yang sangatberharga buat Andi. Bahkan, ia berharap kalau ayahnya sering sakit.
Kebingungan Andi kerapmenggiringnya pada sebuah pertanyaan sederhana: apa yang dicari ayah. Lebihpentingkah sesuatu yang ayah cari itu sehingga tak lagi perlu menemuinya,menyapanya, atau menegurnya. Ingin rasanya ia bercerita soal mobil mainannyayang rusak ke ayah. Ingin sekali ia duduk di pundak ayah, seperti anak-anaklain yang pernah ia lihat. Seperti Dede, Budi, Jejen, Dodi.
Mungkin, orang-orang akan takjubkalau tak sekali pun ayah Andi memarahi atau bertindak kasar terhadap anaknya.Tapi bagi Andi, itu sudah kemestian. Gimana mau memarahi, ketemu saja hampirtak pernah. Protes Andi suatu kali.
Andi tampak seriusmenatap buku raport yang baru diambil ibunya. Dibukanya raport itu perlahan.Mulutnya tampak mengeja sesuatu. Sejenak, ia pun akhirnya mengangguk pelan."Ah, ini ya nama ayahku!"
---
Seorang anak punya penilaiansendiri tentang ayahnya. Penilaian itu muncul dari pengalamannya bersama ayah.Ada kesan ketika ayah menatap, saat ayah bicara, bila ayah marah, dan saat ayahjarang di rumah.
Begitulah perasaan seorang anak terhadapayahnya. Ada banyak warna yang ia imajinasikan. Dan warna itu begitu kuatmelekat dalam pikiran dan emosinya. Suatu saat, warna itulah yang kelakmenuntunnya bagaimana menjadi seorang ayah.
Menurut penelitian Henker (1983),sesuatu yang terjadi dalam hubungan antara orang tua dengan anak (termasukemosi, reaksi dan sikap orang tua) akan membekas dan tertanam secara tidaksadar dalam diri seseorang. Selanjutnya, apa yang sudah tertanam akan terjelmadalam hubungan dengan keluarganya sendiri. Jika hubungan dengan orang tuanyadahulu membahagiakan, maka kesan emosi yang positif akan tertanam dalam ingatandan terbawa ke dalam kehidupan rumah tangganya sendiri. Sebaliknya, daripengalaman emosional yang kurang menyenangkan bersama orang tua, akan terekamdalam ingatan dan mengakibatkan stress. Ini artinya, terdapat "the unfinishedbusiness" dari masa lalu yang terbawa hingga kehidupan berikutnya.
Memang, tak ada orang tua yangingin mewariskan perilaku buruk buat anak-anaknya. Karena itu berarti buruk buatinvestasi generasi ke depan. Persis seperti anak-anak yang tidak menginginkanketidakseimbangan ada pada orang tuanya. Dalam hal apa pun. Termasuk, perhatiandan kasih sayang.