Jungkir Balik, untuk Ibunya Yang "Gila"
Oleh Tim Redaksi
Namanya
Liu Tianquan dari Pu Yang, Tiongkok. Setiap hari, pekerjaannya adalah menarik
perhatian dan menghibur orang. Menarik kereta, makan dengan jungkir balik,
pekerjaan yang dikaloninya semenjak dia masih berusia 5 tahun. Sampai
sekarang, usianya sudah 31 tahun. Ia ingin memanfaatkan kemampuan khususnya ini
untuk mencari pekerjaan guna menghidupi keluarganya. Terutama untuk menghibur
ibunya yang mengalami gangguan kejiwaan.
Suatu
hari, Liu Tianquan baru pulang bekerja dari Zhen Zhou ke kampung halamannya.
Dengan tergesa-gesa berangkat ke rumah kakak sulungnya yang berjarak kira-kira
300 meter. Setelah selesai mempertunjukkan makan mantou dan mengenakan sweater
sambil jungkir balik, tak tertahan lagi sang ibu mulai tertawa.
"Kamu
koq memperagakan lagi jungkir balik! Sejak kecil kamu sangat lincah, kalau kamu
yang memperagakan aku tidak khawatir, tempo hari kakak sulungmu juga mau
ikut-ikutan, apapun yang dikata, aku tidak mengizinkannya, kalau lehernya patah
bagaimana?"
Zhao
Caiqin, sang ibu yang berusia 72 tahun, gangguan jiwanya baru kambuh, wajahnya
tanpa perasaan, tidak mau makan, menggumam tiada hentinya, dengan cepat telah
pulih menjadi normal, pembicaraannya juga sudah normal. Demikian dikutip
Orient
Today.
Ayahnya
mengatakan, "Anak saya yang ke-4 (Liu Tianquan), sangat berbakti. Dalam
cuaca yang sangat dingin seperti ini, masih datang mencuci pakaian sang ibu.
Beberapa waktu yang lalu di rumah kekurangan air, dia membawakan air dari
rumahnya."
Menyenangkan
Hati Ibu
Pada
saat Liu Tianquan berusia 5 tahun, sang ibu yang berperasaan halus menjadi
sakit karena depresi, jiwanya terganggu, sering marah-marah, membanting-banting
mangkuk dan panci. Pada saat sangat parah, dia bahkan dapat membacokkan pisau
masak sekenanya. Saat melihat ibunda yang biasanya penuh kasih menjadi seperti
ini dia sangat bersedih.
Pada
suatu kali ketika ibunya kambuh lagi, secara kebetulan me-lihat dia sedang
berdiri jungkir balik, tiba-tiba menjadi geli dan tertawa dengan sangat
gembira. Setelah itu setiap kali melihat dia jungkir balik sang ibu menjadi
sangat bersuka cita sampai-sampai berjoget.
Melihat
ibunda bergembira, Liu Tianquan juga sangat girang, sehingga berlatih dengan
lebih te-kun. Melihat sang ibu makan mantou, dia akan makan dengan berdiri
jungkir balik, dia pernah tersedak sampai sulit bernafas. Melihat sang ibu
merajut baju wol, dia sambil jungkir balik akan membantu menggulung benang wol.
Pada saat berusia 8 tahun dia sudah dapat mengenakan pakaian sambil jungkir
balik; pada usia 15 tahun dapat mengangkat timba air sambil jungkir balik ....
Selama
31 tahun berlatih jungkir balik, Liu Tianquan selalu mengusahakan agar sang ibu
bergembira dengan berbagai cara, sehingga gangguan jiwa sang ibu sangat
berkurang. Ketika kondisi jiwa sang ibu normal, beliau tidak membiarkan Liu
Tianquan jungkir balik, dia sangat menyayangi putranya itu, "Nak, kamu
jangan berdiri jungkir balik lagi, kalau lehermu patah bagaimana? Kamu makan
sambil berjungkir balik kalau tersedak bagaimana?"
Anak
Berbakti
Setelah
kisah Liu Tianquan muncul dalam media, membuat banyak orang Tionghoa merasa
terharu. Sungguh sulit ditemukan pada zaman masyarakat materialis seperti
sekarang ini. Ada teman-teman dunia maya (internet) mengatakan, "Pada
zaman dahulu ada seorang bernama Lao Laizi. Meskipun sudah berusia di atas 70
tahun, masih sering berupaya menyenangkan ibunda yang sudah berusia 90 tahun
lebih, dengan mengenakan pakaian warna-warni berdandan menyerupai masa
kecilnya, bercanda di depan ibunda agar sang ibu tertawa."
"Lao
Laizi Menghibur Ibunda" merupakan sebuah cerita yang sangat terkenal pada
zaman dahulu, merupakan salah satu dari "Dua Puluh Empat Cara
Berbakti", beberapa puluh tahun terakhir ini sudah tidak ada orang yang
mengungkitnya lagi. Tak terduga hari ini masih hidup seorang Lao Laizi! Sungguh
merupakan sebuah keajaiban!
Ada
teman-teman dunia maya yang memberikan pujian penuh kekaguman, "Anda
adalah orang biasa yang sangat luar biasa, membuat kami gembira, kagum dan
terharu, Anda telah memenuhi karakter moralitas anak berbakti budaya Tionghoa
dengan tindakan nyata. Di dunia manusia memang ada perasaan yang tulus,
perasaan yang tulus hanya ada di antara masyarakat manusia biasa!"
"Siapa
yang mengatakan rasa bakti seorang anak (yang hanya setinggi rumput kecil)
dapat membalas budi maha besar sang ibu (yang bagaikan mentari musim semi).
Seekor kambing pun berlutut pada induk yang menyusuinya, seekor burung gagak
pun setelah dewasa akan membagikan makanan pada induknya, apalagi
manusia." [
hidayatullah.com.
Print
Kirim
Arsip