Rotinya Aku Simpan sampai Ayah Pulang
Oleh Ali Muakhir
Entah,
sudah berapa lama saya tidak membuatkan sarapan buat anak-anak, mungkin
2 bulan, mungkin juga 3 bulan. Agak lupa. Pagi tadi sambil liat berita,
iseng-iseng tangan saya mengoleskan mentega lalu memberinya mesis. Saya
buat beberapa sisir. Sungguh, ini saya lakukan begitu saja, tanpa
sengaja.
Setengah
jam kemudian satu persatu ke-3 malaikat kecil saya bangun. Begitu lihat
ada roti di atas meja, 2 anak saya yang besar langsung berebut. Mereka
masing-masing mengambil dua sisir dan langsung diletakkan di tempat
makanan mereka. Sambil minta dibuatin susu.
Setelah
mereka mandi, mereka baru menyantap roti-roti mereka. Apa yang terjadi
ketika saya selesai sarapan? Ternyata mereka hanya memakan satu sisir
dan meminum susu masing-masing.
"Kenapa tidak dihabiskan, sayang?" tanya saya iseng.
"Kakak
mau menghabiskan kalau ayah buat satu sisir lagi buat Nada," jawab
Nada, anak pertama saya. Eh, dia laki-laki lho, bukan perempuan,
hehehe. Soalnya banyak yang mengira perempuan mengingat panggilannya
Nada.
Saya tidak menjawab. Sambil
melihat jam, saya langsung buat 2 sisir untuk mereka. Sebelum pergi,
mereka benar-benar menghabiskan roti-roti mereka dan masing-masing
menyisakan 1 sisir. Saya benar-benar mulai merasa aneh. Aneh sekali,
ini tidak seperti biasanya.
Sebelum
pergi, anak ke-2 saya, princess kriwil saya, mencium tangan saya dan
berbisik di telinga saya, "Rotinya mau kakak cantik simpan sampai ayah
pulang," katanya.
Deg!
Memang, sejak senin kemarin saya pergi pagi-pagi dan baru pulang
menjelang anak-anak tidur. Ada kerjaan yang mengharuskan saya pergi
pagi-pagi dan pulang hingga malam. Ini akan berlangsung hingga minggu
nanti.
Saya tidak menjawab, cuma bilang, "Terima kasih", sambil memeluk sebentar dan mencium kedua pipinya.
Rasa
kepenasaran saya, akhirnya saya tuntaskan di jalan, ketika mengantar
Nada sekolah, di mobil saya ngobrol sejenak, seperti biasanya, tentang
apapun, termasuk tentang roti bekalnya kali ini. Apa jawaban Nada saat
saya tanya, kenapa hari ini menyisakan roti buatan ayah? Kenapa tidak dihabiskan saja, dan nanti bunda bikin buat bekal.
"Habis ayah sekarang jarang bikin sarapan buat Kaka, jadi kakak mau simpan roti buatan ayah sampai ayah pulang."
Ya
Allah, mata saya langsung berkaca-kaca. Sungguh, pasti ini bukan suatu
kebetulan. Ini ada skenario cantik dari Yang Maha Membuat Skenario.
Jadi,
selama ini mereka mengharapkan kehadiran saya lebih dari apa yang saya
perkirakan? Betapa berharganya roti buatan saya, betapa berharganya
roti buatan seorang ayah untuk anak-anaknya.
(www.alimuakhir.multiply.com)
Print
Kirim
Arsip