Suara Ananda
Kamis, 02 Juli 2009 11:25 WIB
Titip Ibuku Ya Allah ...
"Nak, bangun udah adzan subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja".
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang karyawan di sebuah perusahaan tambang, tapi kebiasaan ibu tak pernah berubah.
Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca, orang yang lanjut usia bisa sangat sensitif dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. Tapi entahlah. Niatku ingin membahagiakan malah membuat ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.
baca selengkapnya...
Kamis, 02 Juli 2009 10:53 WIB
Ayah Menakjubkan
Setiap ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun - dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.
Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar. Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret. Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi sebenarnya lebih menyenangkan.
baca selengkapnya...
Jum'at, 12 Juni 2009 10:17 WIB
Itu Ayahku!
Andi, bocah empat tahun ini kerap mendengar pertanyaan dari orang sekitarnya: tetangga, guru, ibu, nenek, bahkan pembantu. "Andi kalau besar mau seperti ayah, ya?"
Mungkin, Andi memang perlu belajar banyak soal siapa ayahnya. Karena cuma ia yang belum bereaksi utuh seperti yang dirasakan orang-orang sekitarnya. Mereka begitu bangga punya orang terdekat yang dikagumi masyarakat. Ada yang menganggap ayah Andi sebagai guru, pejuang, bahkan teladan.
Orang-orang sekitar Andi mengenal ayahnya serba sempurna. Pengorbanannya buat masyarakat yang begitu besar. Hampir seluruh waktu ayah Andi tercurah buat orang banyak. "Ayahnya Andi memang orang hebat. Benar-benar aktivis sejati,"
baca selengkapnya...
Jum'at, 29 Mei 2009 15:55 WIB
Jungkir Balik, untuk Ibunya Yang "Gila"
Namanya Liu Tianquan dari Pu Yang, Tiongkok. Setiap hari, pekerjaannya adalah menarik perhatian dan menghibur orang. Menarik kereta, makan dengan jungkir balik, pekerjaan yang dikaloninya semenjak dia masih berusia 5 tahun. Sampai sekarang, usianya sudah 31 tahun. Ia ingin memanfaatkan kemampuan khususnya ini untuk mencari pekerjaan guna menghidupi keluarganya. Terutama untuk menghibur ibunya yang mengalami gangguan kejiwaan.
Suatu hari, Liu Tianquan baru pulang bekerja dari Zhen Zhou ke kampung halamannya. Dengan tergesa-gesa berangkat ke rumah kakak sulungnya yang berjarak kira-kira 300 meter. Setelah selesai mempertunjukkan makan mantou dan mengenakan sweater sambil jungkir balik, ...
baca selengkapnya...
Jum'at, 29 Mei 2009 15:59 WIB
Rotinya Aku Simpan sampai Ayah Pulang
Entah, sudah berapa lama saya tidak membuatkan sarapan buat anak-anak, mungkin 2 bulan, mungkin juga 3 bulan. Agak lupa. Pagi tadi sambil liat berita, iseng-iseng tangan saya mengoleskan mentega lalu memberinya mesis. Saya buat beberapa sisir. Sungguh, ini saya lakukan begitu saja, tanpa sengaja.
Setengah jam kemudian satu persatu ke-3 malaikat kecil saya bangun. Begitu lihat ada roti di atas meja, 2 anak saya yang besar langsung berebut. Mereka masing-masing mengambil dua sisir dan langsung diletakkan di tempat makanan mereka. Sambil minta dibuatin susu.
Setelah mereka mandi, mereka baru menyantap roti-roti mereka. Apa yang terjadi ketika saya selesai sarapan? Ternyata mereka hanya ....
baca selengkapnya...