Pemasakan Dikukus
Bersama Dr. Ir. Alsuhendra, M.Si
Pertanyaan: Saat terjadi kelangkaan minyak goreng, banyak pakar menyarankan untuk memasak makanan dengan cara direbus atau dikukus.
Mengapa pemasakan dengan cara dikukus dianggap lebih
baik untuk menyelamatkan zat gizi dalam makanan? (Penanya: Ibu Nirmala - Cibinong).
Jawaban:
Tentu sungguh nikmat rasanya memakan daging goreng
dibandingkan dengan daging mentah. Demikian pula mengkonsumsi jagung rebus
daripada jagung mentah. Memang begitulah, kita umumnya lebih suka makan makanan
yang telah diolah daripada dalam keadaan mentah. Namun, ternyata di samping ada keuntungan
yang diperoleh dari mengolah makanan tadi, disisi lain ada pula kerugian yang
timbul, terutama kalau makanan tersebut diolah dengan panas. Kerugian tersebut adalah adanya zat
gizi yang hilang atau rusak selama proses pengolahan. Tentu saja kita tidak
menginginkan hal demikian.
Makanan yang diolah relatif lebih disukai karena
memiliki rasa yang lebih enak dan dapat disimpan lebih lama. Yang lebih penting adalah pengolahan atau
pemasakan dapat membunuh mikroba atau kuman yang akan menimbulkan penyakit,
atau menghilangkan zat racun yang terdapat dalam bahan mentah.
Di rumah, mungkin cara menggoreng merupakan proses
pemasakan yang paling sering dilakukan karena biasanya menghasilkan makanan
yang enak dan lebih gurih. Menggoreng adalah cara pemasakan menggunakan minyak
goreng sebagai media penghantar panas.
Pada proses menggoreng biasa, bahan makanan digoreng pada suhu minyak
hingga 200-205
oC. Akibat
penggunaan suhu tinggi ini, beberapa zat gizi di dalam bahan makanan yang
sensitif terhadap panas menjadi rusak atau hilang. Vitamin
A dan C merupakan contoh zat gizi yang rentan rusak terhadap panas. Protein
bisa sulit dicerna tubuh akibat adanya reaksi pencoklatan (
browning). Beberapa senyawa
penyebab kanker dapat pula muncul akibat pemanasan yang tinggi dalam waktu
lama. Untuk mengatasi hal ini biasanya penggorengan dilakukan pada suhu yang
lebih rendah, yaitu sekitar 110-160
oC, tergantung pada jenis minyaknya. Cara ini disebut dengan proses gangsa. Cirinya
adalah bahan makanan yang digoreng tidak sampai terendam dalam minyak.
Pengolahan makanan yang juga
relatif sering dilakukan adalah pengukusan dan perebusan. Meskipun rasa yang dihasilkan tidak segurih makanan yang
digoreng, perebusan dan pengukusan dapat menyelamatkan zat gizi lebih banyak.
Hal ini disebabkan oleh suhu yang digunakan tidak setinggi pada proses
penggorengan. Beberapa vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin B dan C
memang bisa menurun kandungannya, tetapi penurunan pada pengukusan tidak sebesar pada proses perebusan. Masalahnya adalah
pemanasan pada proses pengukusan kadang-kadang tidak merata. Contohnya adalah
bagian tepi tumpukan makanan biasanya mengalami pengukusan berlebihan,
sementara bagian tengah kurang.
Print
Kirim
Arsip