LEBARAN - LEtih BAreng ANak
Oleh Gema "Koko" Lubdhaka
Lebaran tahun ini sungguh berbeda dengan lebaran tahun-tahun sebelumnya.
Yup..., lebaran sekarang status saya sudah berubah 180 derajat menjadi seorang ayah. Dan tentu saja, ini adalah kali pertama saya berlebaran di kampung bersama dengan anak saya tercinta Arcello yang sudah berumur 1 tahun.
Bagaimanakah rasanya pertamakali mudik dengan didampingi anak - istri terkasih? Wuiiihhh ... capek. Ya ..., pertama yang saya rasakan adalah letih dan capek. Lo kok ...?
Akan saya ceritakan pengalaman-pengalaman seru dan letih saya tatkala berlebaran bersama Sang Arcello saya ini.
Perjalanan saya ke Jogja saya tempuh dengan menggunakan pesawat terbang (karena membawa anak kecil, biar cepat sampai dan nggak letih). Dan seperti biasanya, saya dan keluarga kecil saya harus menunggu
delay pesawat selama kurang lebih satu setengah jam. Selama itu pula saya dan istri harus bergantian untuk mencari aktivitas buat Arcello karena dia kelihatan ’BT’ kalau cuma duduk-duduk saja. Dan bisa dipastikan saya yang lebih banyak menggendong Arcello demi menyaksikan pesawat yang baru
landing, melihat-lihat pemandangan di sekitar Terminal 3 Soekarno-Hatta dan juga sekedar berkenalan dengan sesama penumpang yang kebetulan juga membawa anak kecil.
Letihkah saya...? Ahhh ... terlalu awal rasanya untuk menjawab pertanyaan itu.
Sudah di dalam pesawat, giliran istri saya yang pegang kendali. Dengan bermodalkan sehelai pasmina, dia berusaha menenangkan Arcello dengan cara menyusuinya. Kata artikel yang pernah dia baca, bayi lebih baik disusui pada saat take off maupun landing. Dan Alhamdullilah ... selama perjalanan 50 menit, Arcello bisa tertidur nyenyak.
Baru saja sampai di rumah Bapak-Ibu saya di Jogja, sorenya saya dan istri harus segera berbelanja kebutuhan Arcello selama 10 hari di Jogja, meliputi : pampers, buah buat maem, bubur bayi, sabun mandi + shampo, biskuit regal untuk cemilan Arcello dan juga susu sebagai pendamping ASI. Item-item di atas memang sengaja tidak kita bawa dari Jakarta. Alasannya adalah biar tidak menambah beban bawaan dan lagian rumah saya di Jogja cukup dekat jaraknya dengan Toko Makro. Kami berempat ( saya, istri, Arcello dan juga ponakan saya Shella ) akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki saja. Dan ternyata setelah ditempuh dengan berjalan kaki, jarak Toko Makro itu terasa lumayan jauh. Pulang menjelang berbuka akhirnya kami selesai belanja. Dan lagi-lagi ... dalam kondisi yang belum berbuka puasa, saya harus membawa barang belanjaan satu kardus sampai ke rumah.
Letihkah saya...? Hehehe ... belum.
Selama di Jogja, rutinitas saya menjadi berbeda dari sebelum lebaran. Sekarang saya harus bangun pagi buat menemani Arcello main karena ibunya sibuk mencuci pakaian. Setelah itu, saya harus segera menyiapkan air hangat untuk keperluan Arcello mandi. Dan dengan rasa kasih sayang yang teramat sangat, saya dan istri memandikan Arcello sambil bermain-main air untuk sekedar mencari tawa-tawa kecil buah hati kami tercinta itu. Setelah mandi, dilanjut dengan acara berdandan ala Arcello, mulai dari melulurkan minyak telon, memakaikan pampers, sampai membersihkan lubang telinga, dan hidung kami berdua lakukan dengan segenap rasa cinta. Acara segera bergulir untuk kemudian tiba saat menyiapkan bubur pagi. Istri yang masak dan saya ... lagi-lagi bertugas menemani sekaligus mengawasi Arcello main. Setelah Arcello kenyang ... barulah saya bisa mandi dan sarapan sendiri.
Letihkan saya...? No commnet aja deh....
Saya sampai ingat betul, kalau kami baru bisa siap keluar rumah (baik untuk silaturahmi ataupun pergi melancong ) adalah pada saat jarum jam menunjukkan angka setengah sepuluh. Terkadang saya dan istri belum sempat sarapan pagi yang betul-betul bikin perut kenyang, kami harus segera pergi ke rumah saudara ataupun ke rumah sanak family yang lebih tua.
Sore menjelang, aktivitas saya juga sama seperti di pagi hari tadi. Mulai dari memandikan, mendandani, menemani main dan juga terkadang menyuapi Arcello. Sedangkan di malam hari, aktivitas saya lebih seru. Saya harus terus menemani dan mengawasi Arcello main sampai jam delapan kemudian pindah ke atas kasur untuk membacakan dongeng dari buku
favoritnya Arcello, sampai mengusap-usap kepalanya setiap kali Arcello terganggu tidurnya (maklum ... kalau lebaran, rumah orang tua saya menjadi agak ramai).
Letihkah saya...? Puiiihhh ....
Yang jelas, letih yang saya rasakan selama saya mudik bareng sama Arcello menjadi semacam pelajaran dan pengalaman batin yang sungguh luar biasa buat saya pribadi. Saya menjadi semakin tahu apa dan bagaimana menghadapi Arcello yang sangat lincah itu. Saya juga menjadi mengerti apa yang harus saya lakukan dikala Arcello mulai dijangkiti penyakit rewel. Saya pun jadi tahu trik-trik dari Arcello pada saat dia ingin diperhatikan.
Dan ... saya menjadi paham, bahwa tugas seorang ibu untuk merawat dan membesarkan anaknya itu memang cukup meletihkan. Tidak gampang memang menjadi seorang ibu, harus selalu siap dan tanggap dalam kondisi seletih apapun juga. Istilah katanya, kalau anak sudah membutuhkan kita ... tak peduli kepala jadi kaki dan kaki jadi kepala, kita harus selalu siap buat dia. Dan yang pasti ... saya semakin cinta dengan Mama-nya Arcello ... suuiiittt ... suitttt ...!
Print
Kirim
Arsip