Kehidupan Keluarga Baik, Mengalahkan IQ Tertinggi
Oleh Jamil Azzaini
Dengan IQ 195, Chris Langan adalah manusia paling jenius di AS (kalau tidak di
dunia) saat ini. Sebagai pembanding, IQ seorang Albert Einstein "cuma" 150.
Toh, Langan hanya bekerja di bar, kemudian peternakan kuda. Keadaan ini
membuktikan bahwa orang paling jenius pun membutuhkan bantuan orang lain untuk
sukses.
Lahir pada 1957 di San Francisco sebagai anak tertua dari empat bersaudara yang
masing-masing berlainan bapak, Langan tidak hanya hidup dalam kemiskinan,
tetapi juga siksaan fisk dan mental dari ayah tiri maupun teman-temannya
sendiri. Kendati demikian, bakatnya sudah bersinar sejak bayi. Pada umur 6
bulan, Langan sudah bisa bicara, usia tiga tahun membaca, lima tahun bertanya
tentang eksistensi Tuhan kepada kakeknya - dan ingat tak puas dengan jawaban
yang diterimanya.
Ketika mulai sekolah, Langan pindah ke Bozeman, Montana. Namun, walau bukan di
sekolah bagus, dia mendapat nilai SAT sempurna sehingga ditawari dua beasiswa
penuh: satu dari Reed College, Oregon, yang satu lagi dari University of
Chicago. Dia memilih Reed (sebuah college liberal, tempat Steve Jobs kuliah
selama setahun).
"Itu kesalahan besar," kata Langan mengenang. "Saya terkena gegar budaya." Dia
yang berambut cepak dan sepanjang musim panas bekerja di peternakan kuda
tiba-tiba harus sekelas dengan remaja gondrong yang kebanyakan dari New York.
"Jadi, saya banyak sembunyi di perpustakaan."
Lalu, lanjutnya, "Saya kehilangan beasiswa... Ibu saya seharusnya mengisi
financial statement untuk perpanjangan beasiswa saya. Entah bagaimana, dia
tidak melakukannya." Ketika Langan menceritakan kesulitannya ke bagian
administrasi, tak seorang pun mau peduli. Marah dengan perlakuan seperti itu,
dia hengkang sebelum ujian akhir sehingga transkrip pada semester II itu
mendapat F semua - bagai bumi dan langit dengan nilai semester I yang A semua.
Setelah bekerja sebagai kuli bangunan dan pemadam kebakaran hutan selama 1,5
tahun, Langan mendaftar ke Montana State University. "Saya kuliah matematika
dan filsafat," ujarnya. "Lalu, datanglah musim dingin. Saya tinggal 13 mil dari
kota, dan mobil saya rusak. Kuliah saya pukul 7.30 dan 8.30."
Maka, Langan lalu menghadap dosen pembimbing untuk pindah kelas. Permintaannya
ditolak. Dia naik banding ke dekan - juga ditolak. Sejak itu, Langan tak
kuliah. Dan, tanpa gelar Ph.D., buah pikiran ilmiahnya tak pernah diperhatikan
kalangan ilmuwan mana pun.
Gladwell lalu mengontraskan kegagalan Langan dengan kisah sukses Oppenheimer.
Melakukan percobaan lab di kelas 3 SD serta belajar fisika dan kimia di kelas
5, bocah jenius ini kuliah di Harvard kemudian Cambridge University untuk gelar
Ph.D. di bidang fisika. Di Cambridge, Oppenheimer yang bergulat dengan depresi
seumur hidupnya jadi pemberontak.
Ceritanya, bakat Oppenheimer adalah fisika teori, tetapi pembimbingnya memaksa
dia ikut fisika eksperimental yang tak disukainya. Suatu hari, karena tak tahan
lagi, Oppenheimer mengambil beberapa zat kimia dari lab dan mencoba meracun
Patrick Blackett (sang pembimbing yang pada 1948 memenangi Nobel).
Untungnya, Blackett curiga. Oleh universitas. Oppenheimer muda langsung
disidang. Hasilnya? Tak kalah mengherankan dibanding kenekatan Oppenheimer
meracun pembimbingnya. Anak muda itu hanya diberi peringatan dan harus
konsultasi rutin dengan seorang psikiater ternama di London.
Bayangkan, dua orang jenius - yang satu harus jebol kuliah di sebuah college
kecil AS yang bereputasi tinggi (secara teoretis lebih toleran) hanya karena
ibunya lupa mengisi formulir, yang satu lagi hanya diberi peringatan oleh
sebuah universitas besar Inggris (yang biasanya kaku) walau melakukan percobaan
pembunuhan. Alangkah berkuasanya sang nasib. Kisah penunjukan Oppenheimer
sebagai scientific director Proyek Manhattan, 20 tahun kemudian, memberikan
gambaran lebih jelas tentang perbedaan nasibnya dari Langan.
Jenderal yang jadi penanggung jawab proyek pembuatan bom nuklir pertama AS itu
adalah Leslie Groves. Guna memilih project leader, dia keliling negeri menemui
para ilmuwan top. Secara teoretis, peluang Oppenheimer junior dibanding para
anggota tim¾sangat kecil. Dia baru 38 tahun yang akan dipimpin. Dia juga ahli
fisika teori, dan proyek itu terutama dikerjakan para experimenter dan
engineer. Afiliasi politiknya pun meragukan, banyak temannya yang komunis. Lagi
pula, dia tak punya pengalaman administratif, tidak paham sedikit pun tentang
peralatan.
Seorang ilmuwan Berkeley menggambarkan Oppenheimer dengan lebih lugas,
"Menjalankan stan hamburger saja dia tidak bisa..." Dan, jangan lupa, dia juga
pernah coba membunuh pembimbingnya.
Bisakah orang dengan resumé seperti itu terpilih memimpin pekerjaan terpenting
abad ke-20? Nyatanya bisa. Dan, rahasianya, seperti ketika dia lolos dari
hukuman di Cambridge.Oppenheimer tahu betul orang kunci untuk Proyek Manhattan
itu adalah Groves. Maka, dia mengerahkan segala kelebihan yang dia punya buat
menarik hati sang Jenderal. "Dia itu jenius," ujar Groves. "Betul-betul
jenius."
Groves adalah engineer dengan gelar pascasarjana dari MIT. Sebagai alumni
Harvard yang hanya "sepelemparan batu" dari MIT, Oppenheimer paham apa yang
menarik bagi Groves. Dan, karena kebetulan dia adalah ilmuwan pertama yang
ditemui Groves, kesan yang ditanamkannya menancap dalam di benak sang Jenderal.
Langan tak mampu membawa diri seperti Oppenheimer. Pengalaman hidupnya yang
teramat keras tak mengajarkan hal-hal seperti itu. Studi oleh Lewis Termat yang
memonitor kehidupan para jenius yang lahir antara 1903 dan 1917 memperkuat
bukti bahwa pengalaman - yang terkait nasib, karena banyak yang tak dapat
dielakkan - sangat menentukan keberhasilan meraih sukses. Keluarga Langan
berantakan, ibunya cerai tiga kali. Sang Ibu tak peduli dengan pendidikan
anaknya. Sebaliknya Oppenheimer dibesarkan di keluarga yang harmonis.
Pengalaman, bahkan budaya lama, menurut Gladwell memainkan peran penting dalam
cara bertindak dan, karenanya, dapat menentukan sukses. Budaya pertanian padi,
misalnya, membuat anak-anak Asia selalu mencetak nilai lebih tinggi di bidang
matematika ketimbang anak-anak Barat yang berlatar belakang budaya pertanian
gandum. Penyebabnya, untuk sukses bertanam padi yang rumit itu diperlukan kerja
keras yang panjang, sementara gandum dapat dimekanisasi dan lahannya harus
diistirahatkan. Budaya kerja keras berkepanjangan itu membuat anak-anak Asia
terbiasa lebih persisten menghadapi soal-soal sulit.
Salam Sukses Mulia
(Dikutip
dari www.swa.co.id yang diilhami dari buku Outliers, Malcolm Gladwell)
Print
Kirim
Arsip