Forum Diskusi

Join Groups
Anda bisa bergabung dengan layanan milis di yahoo dengan memasukan email anda diform berikut:
Album Keluarga



Newsletter AyahBunda
Dapatkan artikel dan tulisan menarik dari AyahBundaku diemail Anda:
Nama Lengkap :
Email Address :
  Dongeng Untuk Ananda
Pengemis Buta, Lo Sun (I)
Oleh Kak Rico

Lo Sun adalah seorang anak yang buta. Ia hidup bersama ayahnya di sebuah gubuk reot. Suatu hari, saat Lo Sun berusia lima tahun, ayahnya mengusir Lo Sun. Sang ayah sudah tak sanggup membiayai hidup Lo Sun. "Kau pergi saja mengemis. Nanti akan banyak orang memberimu sedekah. Mereka pasti kasihan padamu karena kau buta," demikian ayahnya berpesan.

Lo Sun meninggalkan rumah tanpa bekal apapun. Ia ditemani Fan, anjingnya yang setia. Mereka pergi ke kota. Mereka mencari nafkah dengan meminta-minta. Lo Sun berjalan memakai tongkat. Di jalanan yang terjal dan berbatu-batu, Fan menjadi penunjuk jalan.

Fan adalah anjing yang pandai. Sesekali ia membantu majikannya mencari uang. Apabila Lo Sun menepuk tangan tiga kali, Fan berlutut dan menjatuhkan kepalanya ke tanah. Orang-orang di jalan menyukai tontonan ini, sehingga mereka memberi Lo Sun uang receh.

Lima tahun telah berlalu. Sejak matahari terbit sampai tenggelam ke peraduan, Lo Sun menyusuri jalan-jalan kota mencari sesuap nasi. Pada malam hari mereka tidur di sembarang tempat. Kadang di depan pintu rumah orang, kadang di lapangan terbuka.

Suatu malam, Fan menuntun majikannya ke sebatang pohon berdaun lebat di tepi jalan. Lo Sun menyantap makanan malam, berupa sekerat kecil roti. Roti itu dimakannya berdua dengan Fan. Mereka lalu tidur. Dalam tidurnya Lo Sun bermimpi. Seorang peri cantik datang dan berbicara lembut padanya, "Lo Sun, apa kau dapat melihatku?"

Lo Sun menjawab sedih, "Tidak, aku buta."

"Kasihan," sahut sang peri, "Tapi jangan sedih. Barangkali aku bisa menolongmu."

"Apa kau bisa memulihkan mataku?" tanya Lo Sun penuh harap.

"Maksudku, kau bisa menolong dirimu sendiri. Aku hanya membantu. Kalau kau berbuat baik, maka secercah cahaya kecil akan memasuki rongga matamu. Semakin banyak kau beramal kebaikan, semakin bertambah baik penglihatanmu." Si peri lalu menambahkan, "Tapi ingat, apabila perbuatanmu kurang baik, sinar itu akan meredup, dan kau akan kembali buta."

Suara itu menjadi sayup-sayup, dan Lo Sun terbangun. Matahari hangat menerpa wajahnya. Bocah pengemis itu menjadi penuh semangat. Begitu juga Fan yang menyalak-nyalak gembira.

"Fan, bantulah aku agar bisa melihat lagi," cetus Lo Sun. "Tanpa kau, aku tak bisa berbuat banyak."

Mereka berjalan bersama menyelusuri jalan-jalan di kota. Tanpa disadari, mereka melintas di depan seorang pengemis tua yang duduk di tepi jalan. Pengemis itu berkata, "Kasihani aku! Beri pengemis buta uang satu kepeng!"

Lo Sun menjawab, "Tapi aku juga buta, Kek. Aku juga pengemis, seperti Kakek."

"Tapi kau lebih beruntung, anak muda," sahut lelaki tua, "Karena kau masih bisa berjalan. Tapi aku..., aku buta dan lumpuh."

"Oh, ya," pekik Lo Sun. Ia segera memberi si Kakek sekeping uang receh. Itu satu-satunya uang yang dimilikinya.

Pengemis tua mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba Lo Sun merasakan secercah cahaya melintas di depan matanya. Dikerjapkan matanya, dan ketika dibuka, dunia nampak sedikit terang. Ia sudah tidak buta total. "Fan, mimpiku menjadi kenyataan!" pekiknya. "Kata Peri, kalau aku berbuat amal dan kebajikan, buta mataku jadi berkurang!"

Malam harinya Lo Sun tidur di Kuil Pengemis. Yaitu bangunan berupa puing-puing kuno, letaknya di luar kota. Kuil Pengemis adalah tempat singgah para pengemis. Di pojok kuil ada seorang nenek pengemis. Tubuhnya kurus kering. Ia sakit karena kurang makan. Lo Sun hanya memiliki sepotong kecil roti kering untuk makan malam. Tapi diberikannya roti itu kepada nenek itu. Nenek itu mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba ada secercah cahaya lain melintas di depan mata Lo Sun. Dikerjapkan matanya. Sekarang ia bisa melihat malam itu ada bulan purnama.
(BERSAMBUNG)

PrintPrint KirimKirim ArsipArsip RSSRSS
Bookmark and Share


Ruang Ayah Edy

Ibu Kedua Anak Kita
Kita mungkin tidak bisa konsisten tapi program TV selalu konsisten dan hadir tepat waktu. Kita mungkin lupa mengkonfirmasikan pada anak kita bahwa hari ini kita akan pulang terlambat, tapi TV tidak pernah lupa untuk mengkonfirmasikan ... baca selengkapnya....
Konsultasi Gizi dan Keluarga

Pemasakan Dikukus
Saat terjadi kelangkaan minyak goreng, banyak pakar menyarankan untuk memasak makanan dengan cara direbus atau dikukus. Mengapa pemasakan dengan cara dikukus dianggap lebih baik untuk menyelamatkan zat gizi dalam makanan? (Penanya: Ibu Nirmala - Cibinong). baca jawabannya....
Dongeng Untuk Ananda

Saudagar Jerami
Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal dilumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil untuk berdoa. "Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak berkercukupan". baca selengkapnya....
Jajak Pendapat

Permasalahan pada Ananda yang utama dan sulit diatasi?

 Dampak negatif pergaulan
 Prestasi sekolah rendah
 Perilaku kurang terpuji
 Sulit diajak berkomunikasi
 Tidak akur dengan saudara
 Boros uang jajan
 Tidak disiplin

 
Nama Bayi Hari Ini

Nama anak kita adalah doa untuknya, dan nama bayi hari ini adalah Urjuwanah yang artinya Pohon yang kemerah-merahan?
lihat nama lainnya....