Pengemis Buta, Lo Sun (I)
Oleh Kak Rico
Lo Sun adalah seorang anak yang buta. Ia hidup bersama ayahnya di sebuah
gubuk reot. Suatu hari, saat Lo Sun berusia lima tahun, ayahnya mengusir Lo
Sun. Sang ayah sudah tak sanggup membiayai hidup Lo Sun. "Kau pergi saja
mengemis. Nanti akan banyak orang memberimu sedekah. Mereka pasti kasihan
padamu karena kau buta," demikian ayahnya berpesan.
Lo Sun meninggalkan rumah tanpa bekal apapun. Ia
ditemani Fan, anjingnya yang setia. Mereka pergi ke kota. Mereka mencari nafkah
dengan meminta-minta. Lo Sun berjalan memakai tongkat. Di jalanan yang terjal
dan berbatu-batu, Fan menjadi penunjuk jalan.
Fan
adalah anjing yang pandai. Sesekali ia membantu majikannya mencari uang.
Apabila Lo Sun menepuk tangan tiga kali, Fan berlutut dan menjatuhkan kepalanya
ke tanah. Orang-orang di jalan menyukai tontonan ini, sehingga mereka memberi
Lo Sun uang receh.
Lima
tahun telah berlalu. Sejak matahari terbit sampai tenggelam ke peraduan, Lo Sun
menyusuri jalan-jalan kota mencari sesuap nasi. Pada malam hari mereka tidur di
sembarang tempat. Kadang di depan pintu rumah orang, kadang di lapangan
terbuka.
Suatu
malam, Fan menuntun majikannya ke sebatang pohon berdaun lebat di tepi jalan.
Lo Sun menyantap makanan malam, berupa sekerat kecil roti. Roti itu dimakannya
berdua dengan Fan. Mereka lalu tidur. Dalam
tidurnya Lo Sun bermimpi. Seorang peri cantik datang dan berbicara lembut
padanya, "Lo Sun, apa kau dapat melihatku?"
Lo Sun menjawab sedih, "Tidak, aku buta."
"Kasihan," sahut sang peri, "Tapi jangan sedih. Barangkali aku
bisa menolongmu."
"Apa kau bisa memulihkan mataku?" tanya Lo Sun penuh harap.
"Maksudku, kau bisa menolong dirimu sendiri. Aku hanya membantu. Kalau kau
berbuat baik, maka secercah cahaya kecil akan memasuki rongga matamu. Semakin
banyak kau beramal kebaikan, semakin bertambah baik penglihatanmu." Si
peri lalu menambahkan, "Tapi ingat, apabila perbuatanmu kurang baik, sinar
itu akan meredup, dan kau akan kembali buta."
Suara
itu menjadi sayup-sayup, dan Lo Sun terbangun. Matahari hangat menerpa wajahnya.
Bocah pengemis itu menjadi penuh semangat. Begitu juga Fan yang menyalak-nyalak
gembira.
"Fan, bantulah aku agar bisa melihat lagi," cetus Lo Sun. "Tanpa
kau, aku tak bisa berbuat banyak."
Mereka
berjalan bersama menyelusuri jalan-jalan di kota. Tanpa disadari, mereka
melintas di depan seorang pengemis tua yang duduk di tepi jalan. Pengemis itu
berkata, "Kasihani aku! Beri pengemis buta uang satu kepeng!"
Lo
Sun menjawab, "Tapi aku juga buta, Kek. Aku juga pengemis, seperti
Kakek."
"Tapi kau lebih beruntung, anak muda," sahut lelaki tua, "Karena
kau masih bisa berjalan. Tapi aku..., aku buta dan lumpuh."
"Oh, ya," pekik Lo Sun. Ia segera memberi si Kakek sekeping uang
receh. Itu satu-satunya uang yang dimilikinya.
Pengemis
tua mengucapkan terima kasih. Tiba-tiba Lo Sun merasakan secercah cahaya
melintas di depan matanya. Dikerjapkan matanya, dan ketika dibuka, dunia nampak
sedikit terang. Ia sudah tidak buta total. "Fan, mimpiku menjadi
kenyataan!" pekiknya. "Kata Peri, kalau aku berbuat amal dan kebajikan,
buta mataku jadi berkurang!"
Malam
harinya Lo Sun tidur di Kuil Pengemis. Yaitu bangunan berupa puing-puing kuno,
letaknya di luar kota. Kuil Pengemis adalah tempat singgah para pengemis. Di
pojok kuil ada seorang nenek pengemis. Tubuhnya kurus kering. Ia sakit karena
kurang makan. Lo Sun hanya memiliki sepotong kecil roti kering untuk makan
malam. Tapi diberikannya roti itu kepada nenek itu. Nenek itu mengucapkan
terima kasih. Tiba-tiba ada secercah cahaya lain melintas di depan mata Lo Sun.
Dikerjapkan matanya. Sekarang ia bisa melihat malam itu ada bulan purnama.
(BERSAMBUNG)
Print
Kirim
Arsip