Bulan yang Iri Hati
Oleh Kak Rico
Langit ditaburi bintang dan bulan
yang bersinar indah. Senang sekali rasanya melihat keindahan malam dari
ketinggian. Alam di bawah tampak sunyi. Hampir di setiap beranda rumah, tampak
orang duduk-duduk. Mereka memandang ke langit untuk menikmati malam yang indah.
Bulan merasa senang, lalu katanya
kepada bintang-bintang,"Lihat, teman-teman. Mereka mengagumiku."
"Mengagumimu? Belum tentu. Mungkin mereka mengagumi kami," kata
sebuah bintang. "Tapi dari bawah, aku kelihatan lebih besar dan indah!"
sahut Bulan. "Huh, sombong!" sungut sebuah bintang pada
teman-temannya.
"Dia boleh saja sombong. Tapi,
dia tak kan dapat mengalahkan Matahari," kata bintang yang lain.
"Apa?" sahut Bulan terkejut. "Ya, kau tak bisa mengalahkan
Matahari. Karena Matahari lebih banyak penggemarnya. Pagi hari, saat Matahari
terbit, orang-orang ingin menyaksikannya. Waktu Matahari naik, orang-orang
berjemur untuk kesehatan. Selain disukai, Matahari pun disegani. Walaupun ia
bersinar terik, orang-orang tidak mengumpat. Mereka hanya mencari tempat yang
teduh. Matahari mempunyai jasa yang besar, mengeringkan jutaan pakaian yang
dicuci orang. Terus terang, kami pun lebih menyukai Matahari karena ia
hebat," kata sebuah bintang.
"Tidak sombong lagi!"
sahut bintang yang lain. Bulan diam. Ia sangat kesal. Betulkah Matahari sehebat
itu? Sepanjang malam ia tak bisa tenang. Ia terus berpikir bagaimana
mengalahkan Matahari. Akhirnya Bulan mendapat akal. Pagi datang. Matahari
segera menghampiri bulan.
"Selamat pagi, Bulan. Sudah
saatnya aku bekerja. Sekarang kau boleh beristirahat." "Tidak!"
"Lo, kenapa?" tanya Matahari heran. "Aku pun ingin bekerja pada
siang hari," sahut Bulan. "Bulan, siang hari akulah yang bertugas.
Kau harus beristirahat supaya bisa tampil segara malam nanti," kata
Matahari. "Tidak! Sebenarnya aku ingin bertarung denganmu," kata
Bulan. "Bertarung? Bertarung bagaimana?" Matahari makin bingung.
"Bintang-bintang mengatakan kau lebih hebat dariku. Aku ingin lihat, apa
benar kau lebih hebat?" "Bagaimana caranya?" tanya Matahari.
"Aku akan tetap tinggal di sini
bersamamu. Lalu kita lihat, siapa yang lebih disukai orang-orang," kata
Bulan. "Ha ha ha," Matahari tertawa geli. "Bulan, di pagi hari
kau tak kan terlihat. Sinarku lebih kuat dari sinarmu. Jadi apa gunanya?"
Bulan tidak peduli. Ia ingin tetap
tinggal bersama Mathari. Tetapi, kemudian ia kecewa. Sepanjang hari ia di sana,
tak seorang pun menyapanya. Mereka hanya menyapa Matahari. "Hu hu, tak
seorang pun menyukaiku. Bintang-bintang benar, Matahari lebih hebat
dariku," Bulan menangis sedih.
"Benar ’kan Matahari lebih
hebat," kata bintang-bintang yang mengelilinginya. "sekarang
beristirahatlah, Bulan. Malam segera tiba." "Tidak, aku tidak mau!
Tak seorang pun menyukaiku. Apa gunanya aku ada di sana?" sahut Bulan
sedih. "Bulan, dengarlah! Matahari itu tak sehebat yang kau kira. Tapi,
kami senang pada Matahari. Karena ia tidak sombong. Kami pun senang padamu,
asalkan kau tak sombong. Sebenarnya kau dan Matahari tak bisa dibandingkan.
Masing-masing punya kelebihan. Sudahlah, jangan menangis lagi," hibur
sebuah Bintang pada Bulan.
Bulan berhenti menangis. Benar apa
yang dikatakan Bintang. Ia tak boleh sombong. "Bulan, coba lihat!"
kata sebuah bintang. Di bawah, sekelompok anak melambai-lambaikan tangan.
"Ya, mereka menginginkan kau menerangi tempat itu. "Tapi
uaaaah...." Bulan menguap. "Bulan mengantuk karena sepanjang siang
tidak tidur. Biarlah untuk malam ini ia istirahat," kata bintang-bintang.
Malam itu Bulan tidak bekerja. Ia
tertidur dengan nyenyak. Biarlah malam itu langit tak dihiasi Bulan. Yang
penting, Bulan telah menyadari kesalahannya. Ia tak lagi sombong dan tetap
hadir setiap malam.
(SELESAI)
Print
Kirim
Arsip