Pengemis Buta, Lo Sun (II)
Oleh Kak Rico
Malam itu Lo Sun tidur dengan perut kosong. Tapi ia tidak peduli. Rasa
bahagia karena matanya mulai pulih membuat ia lupa bahwa ia lapar.
Esok
harinya, Lo Sun dan Fan kelaparan. Mereka tidak punya roti lagi. Lo Sun dan Fan
kembali ke kota untuk mengemis. Mereka telusuri jalanan berdebu. Tiba-tiba
mereka melihat seekor ayam tersesat di jalan. Fan mengejarnya, lalu
menangkapnya, dan memberikannya kepada Lo Sun. Lo
Sun merasa amat lega. Ayam itu dijualnya di pasar.
Tapi ketika Lo Sun menerima
beberapa keping uang dari si pembeli, tiba-tiba seberkas awan gelap melintas di
depan mata Lo Sun. Pemandangan di depannya pun menjadi gelap. Lo
Sun teringat kata-kata peri dalam mimpi. "Pasti ini hukuman karena aku
berbuat jahat," batinnya. "Ayam itu bukan milikku. Aku telah
mencurinya." Meskipun
merasa amat lapar, Lo Sun tidak mau berbuat dosa. Ia harus mengembalikan ayam
itu kepada pemiliknya. Tapi karena pembelinya sudah pergi, Lo Sun kembali ke
desa, mencari pemilik ayam, dan menyerahkan semua uang hasil penjualan ayam
kepadanya. Maka seberkas cahaya kembali melintas di depan matanya. Bumi
nampaknya lebih cerah daripada semula. Lo Sun kembali tersenyum senang.
Sebulan
kemudian, Lo Sun sudah bisa membedakan benda-benda yang dilihatnya. Sekarang
Fan tak perlu lagi menuntunnya.
Suatu
hari, ia dan Fan sedang duduk di pinggir sungai. Semalam turun hujan lebat.
Langit diselimuti mendung tebal. Air sungai meluap, arusnya deras sekali.
Tiba-tiba terdengar jeritan seorang lelaki, "Tolong! Aku tenggelam!"
Lelaki
itu pasti tercebur ke sungai, dan kini terseret arus deras! Batin Lo Sun. Lo
Sun tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih kecil dan matanya setengah buta.
Bagaimana ia bisa menolong orang tenggelam? Tapi Lo Sun ingat, Fan bisa
berenang dan pandai. Ia pasti bisa menolong orang itu. "Tapi bagaimana
kalau Fan tenggelam?" gumam Lo Sun ragu. "Aku tak akan punya teman
lagi."
Teriakan
laki-laki tadi terdengar lagi. Kali ini Lo Sun tidak ragu-ragu. "Lari,
Fan! Selamatkan lelaki yang tenggelam itu!" Lo Sun berdoa agar si pria dan Fan selamat.
Akhirnya
terdengar suara si lelaki naik ke tepian dan merebahkan tubuh dari tepi sungai.
Lo Sun menghampirinya, dan bertanya, "Apakah Anda baik-baik saja? Di mana
anjingku?"
Lelaki
itu duduk nyaris tak bisa bicara. Tapi ia kemudian berkata pelan,
"Menyesal sekali, anjingmu terseret arus. Aku telah berusaha menariknya.
Tapi kami berdua sama-sama lemah...."
Lo
Sun menangis meraung-raung di rerumputan. "Fan! Apa yang bisa kulakukan
tanpa kau di sampingku? Kau satu-satunya sahabatku!" Lo Sun terisak,
membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Lelaki
itu duduk dan melingkarkan lengannya ke bahu Lo Sun yang malang. "Jangan
menangis!" katanya menghibur. "Pulanglah, ceritakan pada ayahmu. Aku
yakin dia akan membelikanmu anjing lain."
"Tapi aku tak punya rumah," jawab Lo Sun. "Aku buta, dan ayah
mengusirku lima tahun lalu. Fan satu-satunya sahabatku."
Tangisan
lelaki itu pun meledak. "Angkatlah mukamu, Nak," katanya. Lo Sun menengadah
dan memandangi lelaki itu. Ya, ia dapat melihat wajah lelaki itu! Matanya telah
pulih. Perbuatan baiknya yang terakhir telah menyembuhkan kebutaannya. Lelaki
itu bicara dengan suara pelan, "Apakah namamu Lo Sun?"
"Ya, benar," jawab Lo Sun. "Tapi darimana Anda tahu?"
"Lo Sun, anakku, maafkan aku!" ujar lelaki itu. "Aku ayahmu. Aku
telah berlaku kejam dengan mengusirmu. Ayo pulang bersamaku, aku berjanji tak
akan berbuat kejam padamu. Aku akan membelikan kau seekor anjing lain...."
Sesaat
Lo Sun marah. Lelaki di depannya ternyata ayahnya yang telah membuat hidupnya
sengsara! Tapi Lo Sun kemudian sadar, bahwa ia harus memaafkan.
Jawabnya,
"Aku maafkan, Ayah. Aku akan pulang bersama Ayah!"
Ayahnya
memekik kegirangan. Saat mereka berjalan berangkulan pulang, Lo Sun bercerita
tentang peri baik hati yang datang ke mimpinya.
Lo
Sun kini mempunyai anjing lain bernama Min. Namun bagaimana pun akrabnya ia
dengan Min, kenang-kenangan manisnya bersama Fan tak pernah bisa dilupakannya.
(SELESAI)
Print
Kirim
Arsip