Bersama Bunda Neno
Anak Tidak Suka Pelajaran Agama?
Sekitar 5 tahun silam, Ayah, kami-para pegiat dunia parenting- sempat shock oleh temuan di lapangan yang menunjukkan data tentang pelajaran yang paling tidak disukai oleh murid SMP dan SMA. Ayah mau menduga? Apa, Yah? ...
Hmmm. Bukan, Ayah. Temuan itu didapat oleh sebuah penelitian tentang apakah mata pelajaran yang paling tidak diminati oleh peserta didik di 10 propinsi Indonesia. Hasilnya? Sungguh membuat gundah. Anak-anak kita, Ayah.... Mereka tidak menyukai beberapa pelajaran, namun yang paling tidak menarik adalah pelajaran
agama! Keterangan yang didapat mengenai apa dan kenapa pelajaran agama menunjukkan cara penyampaian yang tidak menarik, banyak hafalan, dan guru jadul (jaman dulu alias kuno) dan jaim, bahasa sekarangnya.
Kita tengok tempat lain yuk, Yah. Ada beberapa teman yang ergiat di dunia pelatihan guru menerobos dunia pendidikan formal dengan berbekal kecerdasan jamak atau multiple intelligences. Dari omong-omong dengan mereka, ada yang menarik dari proses pengalihan dan pemberdayaan kecerdasan yang mereka lakukan yaitu ketika mereka meninggalkan cara hafalan, erutama pada pelajaran agama!
Hmm. Ayah mulai meraba ya, Yah? Benar sekali Ayah. Bahkan, Yah, beberapa waktu lalu kami bertemu dengan seorang ayah yang luar biasa! Dia adalah seorang lulusan S3 teologi, seorang mantan kandidat pastor yang telah menunjukkan jalan Islam pada 4orang profesor di universitas negeri terkemuka. Apa yang beliau katakan? \"Bu Neno, apa yang Bu Neno dan teman-teman Bu Neno lakukan dalam dunia pengasuhan untuk perubahan besar di negeri ini, sangat benar. Namun ada satu hal yang tidak disadari oleh sistem pendidikan kolosal negeri ini.\"
Yag pertama, jelas beliau, jumlah jam mata pelajaran setiap harinya di sekolah Katolik hanya sekitar 32 jam, sedangkan anak Islam 46 jam. Ini memayahkan generasi Islam yang tersedot habis tenaganya sehingga tidak sempat lagi mengurus bunyi hati dan menggali potensi ruhiahnya. Ditambah dengan les-les beraneka ragam yang membuat is terkubur oleh PR dan PR yang membuat otaknya kelelahan.
Maka menurut beliau, wajiblah ada upaya mengemas kembali pelajaran agama yang jumlah jamnya sudahlah sedikit, kualitas gurunya amburadul. Maka itu Ayah, Nenoeducare ketika dinominasi oleh Samsung Hope sebagai kandidat penerima grant mereka, kami meniatkan untuk selain menggulirkan program keayahan, juga menyoalisasikan pelatihan guru agama. Agar guru agama, ujung tombak pembelajaran agama bisa menjadi guru yang paling menyenangkan dan mengesankan.
Ayah...
Di luar itu semua, seluruh bahasan tentang bagaimana memiliki kurikulum berbasis Al Quran sudah hebat-hebatan \\\'kan disusun dan dijalankan? Kalau ada sumbang saran barangkali hal kecil yang bisa berarti kalau kita mau berubah,
1. Tanyakan kepada peserta didik di setiap jenjang.... Apa dan bagaimana materi dan cara yang mereka butuhkan dan sukai dari pelajaran agama? Buatlah need assesment. Hargai dan berangkatlah kita dari suara hati mereka.
2. MUI atau ormas-ormas besar dan kecil, tolong berembug untuk segera membuat evaluasi yang jujur tentang kebelumberhasilan dan tantangan yang masih dapat diperjuangkan untuk dipertahankan.
3. Ajak masyarakat untuk berpikir dan memberi kontribusi langsungnya.
Entahlah. Ayah... Kalau generasi kita loyo... Apa mungkin lantaran terlalu banyak menyanyi lagu cinta ya?
Hmm.... Ayah setuju?
Print
Kirim
Arsip