Bersama Bunda Neno
Ketika Maghfira Bertanya tentang Nabi Musa (III)
Ibu yang mulai bijak ini terperangah. "Ya Allah!
Ya Allah! Engkau Mahahebat, Mahabesar! Engkau jawab pintaku! Engkau beri
pertanyaan besar di dada anakku! Ini kesempatan emas bagiku! Anak lima tahun
ini bertanya tentang permintaan Musa kepada Tuhannya yang beberapa kali
kudongengkan sebelum ia tidur!" Jerit hatinya gembira. "Ya, Nak, Nabi Musa kan
sangat ingin bertemu Allah, tetapi Allah menyuruhnya menatap gunung. Lalu,
gunung itu pecah. Gunung tidak tahan," sahutnya bersungguh-sungguh.
Kenapa tidak tahan?" balas anak perempuan ini, masih
sambil memainkan bonekanya.
"Kamu ingin tahu mengapa?" tanya ibunya
meyakinkan. Anak itu mengangguk pasti. Ibunya pun segera memenuhi
keingintahuannya.
"Jawabannya," kata sang ibu terbata karena ia
harus meyakinkan dirinya sendiri dulu sambil mencoba berpikir. Dengan
perumpamaan apa ya saya menjawabnya? Bukankah ini
golden opportunity? Harus direbut! Harus diambil! Berikan jawaban
terbaik. Mana tahu ini menjadi catatan besar dalam hidup anakku, begitulah ia
berdialog dengan hatinya sendiri.
Akhirnya, setelah berdoa, dijawab juga pertanyaan
anaknya itu. "
Bismillah,
mudah-mudahan atas jawaban ibu ini, Allah ridha, ya Nak! Jadi kan, gunung yang
begitu tinggi dan besar saja tidak tahan, apalagi Musa. Musa kan manusia, lebih
kecil dari gunung. Coba Maghfira bayangkan, manusia sama gunung siapa yang
lebih besar?"
"Gunung," jawab anak itu masih sambil memainkan
bonekanya.
"Betul sekali dan Maghfira tahu nggak kenapa?"
pancing si ibu lagi yang kini sudah lebih berani mengambil "risiko".
Gadis kecilnya menoleh, lalu menggeleng tanpa
terlalu bersemangat.
"Itu karena Allah Swt. terlalu Agung, Nak. Dia
tidak bisa dilihat oleh makhluk-Nya karena terlalu Agung!"
Sejenak anak kecil yang cerdas itu menatap wajah
ibunya dan kemudian bertanya "Tapi kenapa tidak bisa dilihat?"
Wuih, ibu mana yang tidak keringatan jika dicecar
pertanyaan seperti ini. Bagi siapa pun yang mau berjalan di jalur pengasuhan,
peristiwa-peristiwa "kecil" seperti ini pasti sangat menggairahkan. Pertanyaan
itu sebagai bukti bahwa otak anak kecil ini masih belum terpuaskan dan masih penasaran.
Penasaran pada Tuhan.
Subhanallah....
O, Allahku, tolong beri ilham lagi, ya Allah! Si
ibu nyaris menyerah menjawab pertanyaan yang untuk dia terasa sukar karena
khawatir salah. Walau hanya untuk urusan menjawab sebuah pertanyaan seorang
anak kecil, sesungguhnya ia telah melakukan terobosan dalam wilayah pengasuhan
dengan selalu melibatkan Allah, Tuhan yang Maha Menyaksikan seluruh kejadian.
Oleh karena itu, hatinya memohon kembali, "Wahai Raja, berikan jawaban terbaik-Mu
untuk anakku.
Please, tolong saya!
Setelah mengambil jeda untuk beberapa saat, ia
putuskan untuk menatap mata anaknya yang jeli dan cerdik itu. Dengan
bismillah, akhirnya, diletakkanlah
jawaban di ujung lidahnya oleh Allah Swt. Allah yang Maha Memampukan hamba-Nya
pasti memberikan kemampuan untuk menjawabkan ini.
"Allah tidak bisa kita lihat, Nak, karena Dialah
yang menciptakan kita. Masak yang diciptakan lebih hebat dari yang menciptakan,
tidak mungkin, jadi kita memang tidak bisa melihat Allah, seperti juga Nabi
Musa a.s. dan gunung, tetapi Allah justru yang selalu melihat kita,
memerhatikan kita karena Dia Allah, Dia satu-satunya yang dapat berbuat begitu.
Tidak satu pun makhluk yang bisa menyamai-Nya."
Perlahan-lahan sekali, ia mengatakan hal itu,
takut terlalu berat, khawatir terlalu abstrak! Usia anaknya baru lima tahun, ia
sadar benar! Namun,
alhamdulillah,
anaknya malah tampak "oke", malah tampak semakin tertarik.
Benar saja!
Allahu
Akbar! Tiba-tiba, ia menoleh dan mengeluarkan pertanyaan yang tidak
terpikirkan akan ditanyakan.
"Kalau jin?" tanyanya. "Apa jin juga?" ulangnya.
Subhanallah! Bagaimana otak anak ini bekerja sehingga
tiba-tiba ia menyambungkan manusia, jin, Musa, Allah Swt.! Allah, Allah,
alangkah hebat rahasia kemampuan otak manusia yang Allah pinjamkan pada anak
lima tahun.
"Ya, juga jin diciptakan Allah dan tidak bisa
melihat Allah sama seperti manusia, tanaman, dan semua makhluk," balasnya.
Sambil berkata begitu, hatinya terus membisik, ...ini
golden opportunity, rebutlah, wahai ibu yang mau mengukir di karang
keras! Ayo!
Demi melihat permata hatinya, Maghfira, terlihat
sudah lebih siap maka sang ibu pun melanjutkan, "Jadi, Nak, Allah memang tidak
bisa kita lihat, tetapi Allah berjanji dalam Al Quran, siapa saja yang taat,
senang shalat, shalih, ia akan bisa bertemu langsung dengan Allah sendiri,
nanti di akhirat!"
Kata-kata yang terakhir ia ucapkan itu adalah
ekspresi keyakinan yang datang dari jatuh bangunnya seorang hamba yang penuh
kesalahan dan kekhilafan dalam mencari jalan Tuhan. Keyakinan yang harus sang
ibu tebus dengan air mata yang amat panjang! Seolah dengan memeluk Al Quran di
dada, kalbunya bermunajat, Ya Allah...semoga Allah izinkan aku, ibu dari si anak
cerdas ini, menanam biji tauhid yang semoga nanti tumbuh menjadi pohon iman
yang kuat, yang cabangnya menyentuh langit dan akarnya menghujam bumi. Begitulah,
doanya mengharukan sekali.
Subhanallah!
Subhanallah!
Setelah kalimat terakhir itu terucap, tiba-tiba ajaib! Sesuatu terjadi pada
anaknya! Ada yang berubah di mata anaknya dan sang ibu dapat menangkapnya! Ia
saksikan dengan mata lahir dan mata batinnya sekaligus bahwa anak cintanya ini
dapat menerima kebenaran. Sungguh rahmat yang besar! Luar biasa Engkau, ya
Allah!
Gadis kecil cantik melompat dan menyingkirkan
bonekanya. Lalu dengan bersemangat, ia berkata dengan pasti dan lantang, "Aku
mau shalat sekarang!"
Allah! Mahabesar Engkau, ya Allah! Hampir-hampir
pecah tangis sang ibu. Oh, sungguh sabar itu manis buahnya!
Yah, walau kita yakin, persoalan shalat anak kita
belum selesai hanya dengan satu kejadian saja seperti Maghfira dan ibunya ini,
tetapi sedikitnya satu hal telah kita dapat pelajari. Alangkah bodoh kita-para
orangtua zaman ini-yang masih sering menggunakan cara-cara yang keras, kasar,
nyinyir, apalagi memakai kekuatan dan kekerasan tangan untuk menanam iman dan
tauhid mereka.
Maghfira atau anak mana pun saja di muka bumi,
seandainya mereka diberi peluang untuk tumbuh dengan patut dan mulia; diberi
ruang untuk mengembarakan pikiran-pikirannya hingga mampu menganalisis dan
menemukan jawaban-jawaban atas keingintahuan mereka sejak dini dan kita sebagai
orangtua mau bersabar menemani, saya yakin, mereka akan menjadi orang-orang
besar dunia! Dengarlah sekali lagi: ORANG-ORANG BESAR DUNIA! Siapakah orang
yang bisa menjadi orang besar dunia? Mereka adalah orang-orang yang dapat
"mengalahkan" dunia, dapat "menaklukkan" dunia. Dengan cara bagaimana dunia
takluk? Apakah dengan mengejarnya, mencintainya, atau mengorbankan diri
untuknya? Ataukah sebaliknya? Sungguh, anak-anak kita yang didekati dengan
pendekatan cinta pada aturan agama dan perintah-perintah Allah-bukan sekadar
"bisa" menjalankan-adalah anak-anak yang kelak dapat lebih mudah dan lebih
cepat mengenal tabiat dunia yang melenakan, yang melalaikan. Mereka tahu bahwa
pada hakikatnya, dunia bukanlah untuk dicintai habis-habisan, melainkan dicari
untuk kepentingan akhirat semata. Itulah yang layak menyandang gelar:
orang-orang besar!
Bagaimana dengan anak-anak kita di rumah?
Sudahkah mereka mendapatkan hak mereka untuk menjadi calon orang-orang besar di
masa datang?
Wallahu alam!
Print
Kirim
Arsip