Bersama Bunda Neno
Ayah
\"Selamat datang, Ayaaah!\"
\"Aku sayaaang deh sama ayah!\"
\"Ayah! Ayah! Ayah jadi kuda ya! Aku mau naik kuda!\"
\" Ayah nakal! Ayah jelek! Ayah elek koyo ketek!\"
\"Terimakasih, gagah...! Ayah sangat senang kita ketemu lagi sore hari ini. Gimana bekas tinta di kaos bolamu kemarin udah berhasil dibersihkan, hm?\"
\"Ow ... ayah lebih dari sayang padamu, shalehahku! Kalau semua gunung jadi emas trus mau ditukar denganmu, ... ayah tidak akan mau! Bahkan, naudzubillah, kalau ayah ditodong penjahat, katanya, \"serahkan anak perempuanmu itu!\" Walau ayah harus mati, lebih baik ayah berkelahi ... ayah tonjok dia kayak begini, lalu ayah pelintir tangannya (pura pura) ..., dst (sampai anak tertawa tawa bahagia). Ayah tidak mau kehilanganmu! Ini ayah, ayah akan menjagamu sampai kau besaaarr nanti dan sampai ada seorang lelaki yang lebih gagah dari ayah yang ayah percaya menggantikan ayah!\"
\"Oke! Siapa takut! Udah siap penunggang kuda yang hebat? Waah, kudanya masih keringetan nih! Kudanya baru turun dari bis ... hehe. Hiyyyeee ...! Ketupak ketupak ... Hiyyeee ...! (hoss ... ayah ngos-ngosan berputar-putar). Waah, ayah jadi ingat sama menantunya Nabi, beliau bertubuh gempal sepertimu tapi hebat sekali naik kudanya! Mau dengar ceritanya? Aa ... kalau mau dengar, turun dulu sini duduk dekat kuda, ya. Eh, kudanya haus sekali ... mau tidak ambilkan minum untuk kuda perangnya? .... hehe ... trimakasiiih, nah itu baru pahlawan!. Oke anak berbakti, kita mulai ceritanya ...\"
\"Ooowww ... ayah tahu ... kau sedang kesal ya? Ya Allah ... coba nak, bilang sama ayah ... apa yang kau kesalkan dari ayah ... hm? Kecewa ya sama ayah? Oke, ayah ngerti, nggak papa nggak mau jawab sekarang ... nanti setelah ayah mandi, kalau kau udah mau cerita kau kasih kode ya, misalnya ... mmm, punya ide nggak? Oh, oke! Itu ide bagus. Jadi kalau kau ketuk pintu seperti ini, tok tok trotok trotok trotok tok! Itu tanda ayah boleh samperin kamu, trus kita kunci kamar berdua, untuk omongin ! Oke! Kalau begitu sekarang ayah ke kamar mandi dulu, ya ... biar nggak jadi monyet lagi ... hehe ... nek ketek ora mandi yo? Ambu yoo?... Hiii ... ambu yoo...! (Anak tertawa gembira melihat ayah melangkah ke kamar mandi dengan gaya monyet yang lucu).
Ahh,apakah itu engkau ayah?
Ayah yang seperti apakah dirimu, ketika anak lelaki dan perempuan kita di usia dini balita menginginkan cinta dan perhatian yang penuh, adakah kita memenuhinya sebagaimana Nabi telah mencontohkannya? Pengaruh kata-kata, sikap, dan bahasa tubuh, otak dan pikiran kita saat bersama mereka ... semua memahat bekas yang dalam, dan memengaruhi kecerdasan, harga diri, dan kebahagiaan dan nasib masa depan mereka ....
Ah, para ayah ... harus ada yang mengatakan ini padamu. Orang yang mencintaimu.
Print
Kirim
Arsip